Orang yang tidak boleh berperang bersama imam dengan alasan apapun

Imam Syafi’i berkata: Tidak boleh bagi imam membiarkan orang- orang munafik ikut berperang bersamanya.  Jika mereka berperang bersamanya, maka ia tidak boleh memberi mereka bagian (ghanimah). Ia tidak boleh memberi ghanimah itu sedikitpun, karena orang itu termasuk orang yang dilarang

Hadirnya orang yang tidak wajib berperang

Imam Syafi’i berkata: Orang yang tidak berdosa apabila meninggalkan perang itu ada dua macam: Pertama, orang merdeka yang dewasa namun berhalangan. Kedua, orang yang tidak waj ib berjihad; yaitu budak, atau orang yang belum dewasa dari kaum laki-laki yang merdeka

Berubahnya keadaan orang yang tidak wajib berjihad

Imam Syafi’i berkata: Apabila seseorang tidak diwajibkan berjihad, atau ia termasuk orang yang wajib berjihad, lalu ia keluar dari jihad itu karena sesuatu hal, baik karena dirinya sendiri atau karena hartanya, kemudian alasan itu hilang atau tidak relevan lagi, maka

Masalah Harta Kafir Harbi

Imam Syafi’i berkata: Apabila orang kafir dzimmi atau orang Islam masuk ke darul harb (negeri perang) dengan memperoleh jaminan keamanan, lalu orang itu keluar dengan membawa harta mereka yang dengannya ia dapat membeli sesuatu; adapun harta yang ada bersama seorang

Pembahasan Tentang Hukum Memerangi Musyrikin Dan Masalah Harta Kafir Harbi

Imam Syafi’i berkata: Ahli Kitab dan orang-orang musyrik yang berperang, mereka diperangi hingga masuk Islam atau membayar jizyah dengan tangan mereka dan mereka dalam keadaan tunduk. Apabila mereka sudah memberi jizyah, maka kaum muslimin tidak boleh membunuh atau memaksa mereka

Apa yang dijelaskan dalam Perlombaan Memanah

Imam Syafi’i berkata: Perlombaan memanah di antara dua orang kemenangannya ditandai dengan didahuluinya salah seorang atas yang lain; dan yang berada di antara keduanya adalah muhallil, tugasnya sama seperti dalam perlombaan pacuan kuda. Masing-masing dari keduanya mempunyai hak seperti yang

Pembahasan Tentang Perlombaan Dan Memanah

Imam Syafi’i berkata: Semua yang halal untuk diambil oleh seseorang dari orang Islam itu ada tiga: Pertama, yang diwajibkan atas harta manusia dan mereka tidak dapat menolaknya karena jinayah (penganiayaan) mereka dan jinayah-jinayah orang lain yang mengambil darinya. Kedua, apa

Keamanan (Ketenteraman)

Imam Syafi’i berkata: Sebagian orang mengatakan bahwa keamanan boleh dijamin oleh kaum wanita dan lelaki muslim untuk kafir harbi. Adapun budak yang muslim jika ia menjamin keamanan untuk pemberontak atau kafir harbi dan budak itu berperang, maka kami membolehkannya menjamin

Hukum Harta para Pemberontak dan yang lainnya

Imam Syafi’i berkata: Apabila di suatu negeri kaum muslimin muncul pemberontak, maka pemimpin mereka dapat melaksanakan hukum had padanya dan harus betul-betul melaksanakannya demi Allah dan umat manusia, atau ia mengambil zakat-zakat kaum muslimin dengan sempurna, menambahkan dengan sesuatu yang

Keadaan di mana Darah Pemberontak Tidak Dibolehkan

Imam Syafi’i berkata: Apabila suatu kaum mengemukakan pendapat Khawarij dan menjauhkan diri dari manusia dan mengkafirkan mereka, maka kita tidak boleh memerangi mereka, karena mereka terlindung dengan sebab keimanan, dan mereka belum mencapai sesuatu yang karenanya Allah memerintahkan untuk memerangi