Oleh: Ahmad Ghozali Fadli
Kemajuan teknologi digital telah membawa dunia ke dalam genggaman. Dengan sekali sentuh, informasi, hiburan, bahkan transaksi ekonomi hadir dalam layar mungil ponsel. Namun, di balik kemudahan itu, terselip bahaya laten: budaya konsumtif, hedonisme, dan obsesi pada validasi virtual. Generasi muda, termasuk santri, kini menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam QIJIS Vol. 13 No. 1 (2025) menyoroti relevansi ajaran Kiai Ihsan Jampes, ulama besar asal Kediri, dalam merespons fenomena ini. Penelitian dengan objek santri, alumni, dan komunitas di Pesantren Al-Ihsan Jampes Kediri menegaskan bahwa konsep zuhud adaptif Kiai Ihsan mampu menjadi benteng spiritual di era digital. Zuhud, dalam pandangannya, bukan berarti menarik diri dari dunia, melainkan balanced engagement: tetap terlibat aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi, namun hati tidak bergantung pada materi.
Inilah letak keistimewaan konsep zuhud Kiai Ihsan. Jika dalam tradisi klasik zuhud sering dipahami sebagai pengasingan diri atau asketisme keras, maka Kiai Ihsan menawarkan tafsir kontekstual. Zuhud bukan anti-kemajuan, melainkan cara untuk tetap hadir di tengah masyarakat tanpa diperbudak oleh gemerlap dunia.
Zuhud di Era Digital
Fenomena digital materialism tampak jelas dalam keseharian generasi muda. Data menunjukkan lebih dari 73% penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial, sementara transaksi e-commerce menembus ratusan triliun rupiah per tahun. Pola konsumsi ini bukan sekadar soal ekonomi, tetapi juga soal spiritualitas: muncul rasa kurang jika tidak mengikuti tren, muncul kegelisahan jika unggahan tidak mendapat cukup “likes”.
Dalam konteks inilah zuhud adaptif menemukan relevansinya. Ia mengajarkan generasi muda untuk tetap menggunakan teknologi, tetapi dengan kesadaran batin. Memiliki gawai bukanlah masalah, selama tidak menjadikan diri hamba layar. Aktif di media sosial boleh saja, selama tidak terjebak pada pencitraan diri dan budaya pamer.
Prinsip sederhana ini sekaligus menjadi kritik terhadap narasi yang kerap memandang agama sebagai antitesis modernitas. Justru, warisan pemikiran Islam klasik—jika dibaca ulang secara kreatif—menawarkan kerangka etik yang lebih kokoh daripada sekadar program digital detox ala Barat.
Pesantren Sebagai Laboratorium Sosial
Pesantren Al-Ihsan Jampes di Kediri telah membuktikan hal ini. Dengan menanamkan nilai zuhud dalam keseharian santri, pesantren tersebut melahirkan generasi yang tidak anti-teknologi, tetapi mampu menata relasi dengan gawai dan media sosial secara bijak. Santri tetap belajar, berdakwah, bahkan berkreasi secara digital, namun tetap menjaga kesederhanaan dan kebersahajaan hidup.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Banyak pesantren lain yang mulai mengambil peran serupa, salah satunya Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an di Wonosalam, Jombang. Pesantren yang berdiri di kaki pegunungan ini menjadi contoh nyata bagaimana nilai kesederhanaan dipadukan dengan kemandirian ekonomi dan pendidikan spiritual.
Di Bumi Al-Qur’an, para santri diajarkan bercocok tanam, beternak, dan mengolah hasil bumi sendiri. Mereka terbiasa hidup sederhana, bersahaja, dan tidak bergantung pada pola konsumsi instan. Model pendidikan semacam ini sejatinya adalah bentuk konkret dari zuhud adaptif: tetap berinteraksi dengan dunia, tetap produktif, tetapi hati tidak dikendalikan oleh nafsu konsumsi.
Menariknya, meski berada di kawasan pedesaan, pesantren ini juga tidak menutup diri dari digitalisasi. Santri dan guru memanfaatkan media sosial untuk dakwah dan pendidikan, sekaligus menampilkan wajah Islam yang teduh dan bersahaja. Dengan begitu, mereka justru menjadi teladan bagaimana teknologi digunakan sebagai sarana kemanfaatan, bukan jebakan gaya hidup.
Tantangan Generasi Muda
Generasi muda hari ini menghadapi ujian yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Jika dahulu cobaan hidup datang dari kelangkaan, kini tantangan justru lahir dari kelimpahan. Informasi berlimpah, hiburan berlimpah, bahkan pilihan gaya hidup pun tanpa batas. Di sinilah lahir generasi yang mudah terdistraksi, cepat merasa kurang, dan rentan kehilangan arah.
Pesantren, dengan tradisi dan warisan keilmuannya, sebenarnya memiliki modal kuat untuk menjawab tantangan ini. Ajaran zuhud adaptif Kiai Ihsan Jampes adalah salah satu contoh bagaimana nilai klasik dapat direkontekstualisasi. Tidak harus menolak teknologi, tetapi mengajarkan generasi muda bagaimana menempatkan teknologi di bawah kendali spiritual.
Di Bumi Al-Qur’an Wonosalam, misalnya, santri diajak memahami bahwa kecanggihan gawai bukan alasan untuk lalai dari shalat berjamaah, bahwa akses internet bukan alasan untuk lupa bercocok tanam, dan bahwa popularitas digital bukan tujuan utama dalam hidup. Nilai-nilai ini meneguhkan bahwa inti pendidikan pesantren bukan sekadar mencetak orang cerdas, tetapi juga pribadi yang tangguh, sederhana, dan berorientasi pada akhirat.
Menata Ulang Spiritualitas
Masyarakat Indonesia tengah berada pada persimpangan penting: apakah kita akan membiarkan generasi muda hanyut dalam pusaran materialisme digital, ataukah kita menata ulang spiritualitas dengan warisan kearifan lokal?
Kiai Ihsan Jampes telah memberi teladan melalui konsep zuhud adaptif. Pesantren Al-Ihsan Jampes di Kediri membuktikan ajaran itu dapat diinternalisasikan dalam praktik pendidikan. Pesantren Bumi Al-Qur’an Wonosalam pun menghadirkan bukti bahwa nilai kesederhanaan dan kemandirian dapat hidup berdampingan dengan pemanfaatan teknologi.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, kita membutuhkan keseimbangan: hadir aktif dalam kehidupan dunia, tetapi hati tetap tertambat pada Allah. Itulah makna sejati zuhud. Sebuah ajaran lama yang ternyata justru sangat baru untuk menjawab tantangan zaman.

