Prioritas Amalan Hati Atas Amalan Anggota Badan

Di antara amalan yang sangat dianjurkan menurut pertimbangan agama  ialah amalan batiniah yang dilakukan oleh hati manusia. Ia lebih diutamakan daripada amalan  lahiriah  yang dilakukan oleh anggota badan, dengan beberapa alasan.

Pertama, karena sesungguhnya amalan yang lahiriah itu tidak akan diterima oleh Allah SWT selama tidak disertai  dengan amalan batin yang  merupakan dasar bagi diterimanya amalan lahiriah itu, yaitu niat;  sebagaimana  disabdakan oleh Nabi saw:

“Sesungguhnya amal perbuatan itu harus disertai dengan niat.” 32

Arti niat ini ialah niat yang terlepas dari cinta diri dan dunia.  Niat yang murni untuk Allah SWT.  Dia tidak akan menerima amalan seseorang kecuali amalan itu murni  untuk-Nya; sebagaimana difirmankan-Nya:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus…” (al-Bayyinah: 5)

Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya Allah tidak menerima amalan kecuali yang murni, yang dilakukan hanya untuk-Nya.”33

Dalam sebuah hadits qudsi diriwayatkan, Allah SWT berfirman,

“Aku adalah sekutu yang paling tidak memerlukan persekutuan. Barangsiapa melakukan suatu amalan kemudian dia mempersekutukan diri-Ku dengan yang lain, maka Aku akan meninggalkannya dan meninggalkan sekutunya.” Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Maka dia akan menjadi milik sekutunya dan Aku berlepas diri darinya.” 34

Kedua,  karena hati merupakan hakikat  manusia, sekaligus menjadi  poros kebaikan dan kerusakannya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi saw bersabda,

“Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati.”35

Nabi saw. menjelaskan bahwasanya hati  merupakan titik pusat pandangan Allah,  dan perbuatan yang dilakukan oleh hatilah yang  diakui  (dihargai/dinilai)  oleh-Nya.  Karenanya,  Allah hanya  melihat hati seseorang, bila bersih niatnya, maka Allah akan menerima amalnya: dan bila kotor hatinya (niatnya  tidak benar), maka otomatis amalnya akan ditolak Allah, sebagaimana disabdakan oleh baginda,

“Sesungguhnya Allah SWT tidak melihat kepada tubuh dan bentuk kamu, tetapi Dia melihat kepada hati-hati kamu.” 36

Yang dimaksudkan di sini ialah  diterima  dan  diperhatikannya amalan tersebut.

Al-Qur’an menjelaskan bahwasanya keselamatan di akhirat kelak, dan perolehan surga di sana, hanya dapat dicapai  oleh orang yang hatinya bersih dari kemusyrikan, kemunafikan dan penyakit-penyakit hati yang menghancurkan.  Yaitu orang yang hanya  menggantungkan  diri kepada Allah SWT, sebagaimana yang Dia firmankan melalui lidah nabi-Nya, Ibrahim al-Khalil a.s.

“Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan. (Yaitu) di hari harta dan anak-anak tidak berguna. Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (as-Syu’ara’: 87-89)

“Dan didekatlah surga itu kepada orang-orang yang bertaqwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat.” (Qaf: 31-33)

Keselamatan  dari  kehinaan  pada  hari  kiamat  kelak   hanya diberikan  kepada  orang  yang  datang kepada Allah SWT dengan hati yang bersih. Dan surga hanya diberikan kepada orang  yang datang kepada Tuhannya dengan hati yang pasrah.

Taqwa  kepada  Allah –yang merupakan wasiat bagi orang-orang terdahulu dan yang terkemudian, merupakan dasar perbuatan yangutama, kebajikan, kebaikan di dunia dan akhirat– pada hakikat dan intinya merupakan persoalan hati. Oleh karena itu Nabi saw bersabda,  “Taqwa itu ada di sini,” sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali. Beliau mengatakannya  sebanyak  tiga  kali sambil  memberikan  isyarat  dengan  tangannya ke dadanya agar dapat dipahami oleh akal dan jiwa manusia.

Sehubungan dengan hal ini,  al-Qur’an  memberi  isyarat  bahwa ketaqwaan itu dilakukan oleh hati manusia:

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati.”(al-Hajj: 32)

Semua tingkah laku dan perbuatan yang mulia, serta tingkatan amalan rabbaniyah  yang menjadi perhatian para ahli suluk dan tasawuf, serta para penganjur pendidikan  ruhaniah,  merupakan perkara-perkara yang berkaitan dengan hati; seperti menjauhi dunia, memberi perhatian yang lebih kepada akhirat, keikhlasan kepada  Allah,  kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, tawakkal kepada Allah, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada siksaan-Nya, mensyukuri nikmatNya, bersabar atas bencana, ridha terhadap ketentuan-Nya, selalu mengingat-Nya,  mengawasi diri sendiri…  dan lain-lain. Perkara-perkara ini merupakan inti dan ruh agama, sehingga barangsiapa yang  tidak  memiliki perhatian  sama sekali terhadapnya maka  dia  akan  merugi sendiri, dan juga rugi dari segi agamanya.

Siapa yang mensia-siakan umurnya, maka dia tidak akan mendapatkan apa-apa
Anas meriwayatkan dari Nabi saw,

“Tiga hal yang bila siapapun berada di dalamnya, maka dia dapat menemukan manisnya rasa iman. Hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada yang lain; hendaknya ia mencintai seseorang yang ia tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam api neraka.” 37

“Tidak beriman salah seorang di antara kamu sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtua dan anaknya, serta manusia seluruhnya.” 38

Diriwayatkan dari Anas bahwa ada seorang lelaki yang  bertanya kepada  Nabi  saw, “Kapankah kiamat terjadi wahai Rasulullah?” Beliau balik bertanya: “Apakah yang telah engkau  persiapkan?” Dia menjawab, “Aku  tidak  mempersiapkan banyak  shalat dan puasa, serta shadaqah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”Rasulullah saw kemudian bersabda, “Engkau akan bersama orang yang engkau cintai.”39

Hadits ini dikuatkan oleh hadits Abu Musa bahwa ada  seseorang berkata  kepada  Nabi  saw, “Ada seseorang yang mencintai kaum Muslimin, tetapi  dia  tidak  termasuk  mereka.” Nabi   saw menjawab,  “Seseorang  akan  bersama  dengan  orang  yang  dia cintai.”40

Hadits-hadits tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Allah SWT  dan  Rasulullah, serta cinta kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh merupakan cara pendekatan yang paling baik kepada Allah SWT; walaupun tidak disertai dengan tambahan shalat, puasa dan shadaqah.

Hal ini tidak lain adalah karena cinta  yang  murni  merupakan salah satu amalan hati, yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah SWT.

Atas dasar itulah beberapa ulama besar berkata,

“Aku cinta kepada orang-orang shaleh walaupun aku tidak termasuk golongan mereka.”

“Aku berharap hahwa aku bisa mendapatkan syafaat (ilmu, dan kebaikan) dari mereka.”

“Aku tidak suka terhadap barang-barang maksiat, walaupun aku sama maksiatnya dengan barang-barang itu. “

Cinta kepada Allah, benci karena Allah  merupakan  salah  satu bagian dari iman, dan keduanya merupakan amalan hati manusia.

Dalam sebuah hadits disebutkan,

“Barangsiapa mencintai karena Allah, marah karena Allah, memberi karena Allah, menahan pemberian karena Allah, maka dia termasuk orang yang sempurna imannya.”41

“Ikatan iman yang paling kuat ialah berwala’ karena Allah, bermusuhan karena Allah, mencintai karena Allah, dan membenci karena Allah SWT.” 42

Oleh sebab itu, kami sangat heran  terhadap  konsentrasi  yang diberikan  oleh  sebagian  pemeluk  agama, khususnya para dai’ yang menganjurkan amalan dan adab sopan santun yang  berkaitan dengan   perkara-perkara   lahiriah lebih banyak  daripada perkara-perkara batiniah; yang memperhatikan bentuk luar lebih banyak   daripada   intinya;   misalnya  memendekkan  pakaian, memotong kumis dan memanjangkan jenggot, bentuk hijab  wanita, hitungan anak tangga mimbar, cara meletakkan kedua tangan atau kaki ketika shalat, dan perkara-perkara  lain  yang  berkaitan dengan bentuk luar lebih banyak daripada yang berkaitan dengan inti dan  ruhnya.  Perkara-perkara  ini,  bagaimanapun,  tidak begitu diberi prioritas dalam agama ini.

Saya  sendiri memperhatikan dengan amat menyayangkan bahwa banyak  sekali  orang-orang  yang  menekankan  kepada bentuk lahiriah  ini  dan  hal-hal yang serupa dengannya Saya tidak berkata  mereka  semuanya mereka begitu mementingkan  hal tersebut  dan  melupakan  hal-hal lain yang jauh lebih penting dan lebih dahsyat pengaruhnya.  Seperti  berbuat  baik  kepada kedua orangtua,  silaturahim, menyampaikan amanat, memelihara hak orang lain, bekerja yang baik, dan memberikan hak  kepada orang  yang  harus memilikinya, kasih-sayang terhadap makhluk Allah, apalagi terhadap  yang  lemah,  menjauhi  hal-hal  yang jelas diharamkan, dan  lain-lain sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT kepada orang-orang yang beriman di dalam kitab-Nya, di  awal  surah  al-Anfal, awal surah al-Mu’minun, akhir surah al-Furqan, dan lain-lain.

Saya tertarik dengan perkataan  yang  diucapkan  oleh  saudara kita, seorang dai’ Muslim, Dr. Hassan Hathout yang tinggal di Amerika, yang sangat tidak suka kepada sebagian  saudara  kita yang  begitu  ketat dan kaku dalam menerapkan hukum Islam yang berkaitan dengan daging halal yang  telah  disembelih  menurut aturan  syariat.  Mereka  begitu  ketat meneliti daging-daging tersebut  apakah  ada  kemungkinan bahwa daging tersebut tercampur  dengan daging atau lemak babi, walaupun persentasenya hanya sebesar satu persen, atau  seperseribunya; tetapi  dalam masa yang sama dia tidak memperhatikan bahwa dia memakan bangkai saudaranya setiap hari beberapa  kali  (dengan fitnah dan mengumpat/ghibah),  sehingga  saudaranya dapat menjadi sasaran syubhat dan tuduhan,  atau dia  sendiri  yang menciptakan tuduhan-tuduhan tersebut.

Catatan kaki:

32 Muttafaq Alaih dari Umar (al-Lu’lu’ wa al-Marjan, 1245), hadits pertama yang dimuat dalam Shahih al-Bukhari ^

33 Diriwayatkan oleh Nasai dari Abu Umamah, dan dihasankan olehnya dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir(1856) ^

34 Muslim meriwayatkannya dari Abu Hurairah r.a. dengan lafal hadits yang pertama, sedangkan lafal yang lainnya diriwayatkan oleh Ibn Majah.

35 Muttafaq ‘Alaih, dari Nu’man bin Basyir, yang merupakan bagian daripada hadits, “Yang halal itu jelas, dan yang haram itu juga jelas” (Lihat al-Lu’lu’ wa al-Marjan, 1028) ^

36 Diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah r.a. (2564)^

37 Muttafaq ‘Alaih dari Anas (al-Lu’lu’wa al-Marjan, 26) ^

38 Muttafaq ‘Alaih dari Anas (al-Lu’lu’ wa al-Marjan, 27) ^

39 Muttafaq ‘Alaih dari Anas (al-Lu’lu’ wa al-Marjan, 1693) ^

40 Muttafaq ‘Alaih dari Anas (al-Lu’lu’ wa al- Marjan, 1694) ^

41 Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab al-Sunnah dari Abu Umamah (4681), dan dalam al-Jami’ as-Shaghir riwayat ini dinisbatkan kepada Dhiya’ (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 5965) ^
42 Diriwayatkan oleh al-Thayalisi, Hakim, dan Thabrani dalam al-Kabir, dan al-Awsath dari Ibn Mas’ud, Ahmad, dan Ibn Abi Syaibah dari Barra” dan juga diriwayatkan oleh Thabrani dari Ibn ,Abbas (Shahih al-Jami’ as-Shaghir, 2539) ^

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *