Oleh: Ahmad Ghozali Fadli
Banyak orang tua hari ini tanpa sadar memperlakukan pesantren seperti day care raksasa. Anak dititipkan, biaya pendidikan dibayar, lalu urusan selesai. Jika anak berprestasi, orang tua ikut bangga; jika anak bermasalah, pesantren disalahkan. Apa cara pandang ini benar?
Mari kita lihat fakta sederhana di sekitar kita: Tiket playground: Rp100.000 per hari, hanya untuk anak bermain jungkat-jungkit dan seluncuran. Parkir mobil di stasiun: Rp5.000 per jam, hanya untuk menitipkan kendaraan yang tidak punya hati, tidak punya iman, dan tidak akan berubah menjadi lebih baik.
Itu semua kita bayar tanpa protes. Berjam-jam parkir mobil? Bayar. Anak bermain 2 jam? Bayar. Karena kita sadar: ada biaya untuk sebuah layanan.
Namun, mengapa ketika berbicara tentang pesantren—tempat mendidik manusia, membentuk akhlak, dan membangun peradaban—ada yang menganggap semua harus serba murah, instan, dan tidak perlu keterlibatan?
Allah menegaskan:
وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang ia usahakan.” (QS. An-Najm: 39)
Di pesantren, anak tidak hanya “disimpan”. Mereka dibimbing akhlaknya, diarahkan ibadahnya, dibentuk mentalnya, diajari ilmu agama dan ilmu dunia, dilatih kemandirian, dan itanamkan nilai-nilai perjuangan.
Semua itu tidak bisa dibandingkan dengan playground berharga Rp100.000 sehari yang hanya memberikan hiburan, atau parkiran Rp5.000 per jam yang hanya menjaga barang mati.
Kesalahan yang sering muncul hari ini adalah anggapan: “Sudah saya masukkan pesantren; ya biar pesantren yang memperbaiki semuanya.” Tidak. Pesantren adalah mitra, bukan pengganti orang tua. Doa, komunikasi, perhatian, dan keteladanan orang tualah yang menentukan masa depan anak dalam jangka panjang.
Allah mengangkat derajat orang-orang berilmu:
يَرْفَعِ اللّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu di antara kalian.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Menjadi berilmu tidak lahir dari sekadar dititipkan. Harus ada proses panjang, pembinaan, pendampingan, dan pengorbanan.Jadi, Orang Tua dan Pesantren harus bersinergi, sehingga anak akan lebih cepat matang, lebih disiplin, lebih lembut hatinya, lebih kuat akidahnya, dan lebih terarah masa depannya.
Maka, orang tua harus paham. Mobil saja perlu dirawat. Playgroup saja perlu dibayar. Maka anak kita —yang kelak menjadi pewaris masa depan—lebih pantas mendapatkan perhatian, biaya, dan kerjasama yang jauh lebih besar. Pesantren bukanlah tempat penitipan anak. Tetapi, tempat membesarkan peradaban.
Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Perubahan anak dimulai dari perubahan cara pandang orang tua. Jangan Korbankan anak, untuk Kepentingan Orang Tua sesaat.
IJAZAH DO’A ANAK SHOLEH
Baca khusus surat Al Fatihah 3 kali, atau 7 kali, atau 11 kali, setiap selesai sholat wajib. Dan doa penutup berikut 1 kali:
رَبِّ هَبۡ لِی مِن لَّدُنكَ ذُرِّیَّةࣰ طَیِّبَةًۖ إِنَّكَ سَمِیعُ ٱلدُّعَاۤءِ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ اَزْوَاجِنَا وَذُرِّيّٰتِنَا قُرَّةَ اَعْيُنٍ وَّاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ اِمَامًا
“Ya Tuhanku, berilah aku keturunan yang baik dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa. Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami penyejuk mata dari pasangan dan keturunan kami serta jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”

