Negeri orang yang mengadakan perdamaian

Imam Syafl’i berkata: Apabila imam memerangi suatu kaum dan belum memperoleh kemenangan atas mereka, sehingga mereka mengusulkan perdamaian kepada imam dengan tanah mereka atau sesuatu yang akan mereka berikan kepada imam dari tanah mereka, dan pemberian mereka itu lebih banyak dari jizyah atau sepadan dengan jizyah, dan apabila mereka dari orang yang akan dipungut jizyah-nya memberikan yang demikian itu serta berlaku hykum kepada mereka, maka imam harus menerima tawaran mereka. Imam tidak boleh menerima dari mereka selain bahwa hukum itu berlaku atas mereka.

Apabila imam sudah menerima tawaran mereka, maka ia harus membuat perjanjian tertulis antara dirinya dan mereka, dengan persyaratan yang jelas di antara mereka. Isi surat itu akan dilaksanakan oleh orang yang datang kemudian. Tanah tersebut adalah milik mereka yang mengadakan perdamaian.

Apabila mereka itu mengadakan perdamaian dengan kaum muslimin dan bahwa kaum muslimin mempunyai hak atas sesuatu dari tanah tersebut, maka kaum muslimin boleh bersekutu dengan mereka pada tanah itu, dengan apa yang mereka lakukan dalam perdamaian tersebut. Jika mereka mengadakan perdamaian dengan kaum musyrikin bahwa seluruh tanahnva itu untuk kaum musyrikin, maka tidak mengapa bagi imam melakukan perdamaian dengan kaum musyrikin. Kaum muslimin boleh menetapkan atas kaum musyrikin itu uang kharaj (uang hasil tanah) yang diketahui. atau sesuatu yang disebutkan yang mereka tanggung pada harta benda mereka seperti jizyah, atau sesuatu yang disebutkan, yang akan dilakukan pada setiap tanaman dari tanah itu, sekian dari gandum atau lainnya.

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *