Nasikh dan Mansukh yang Ditunjukkan Sunnah dan Ijma.

Allah berfirman:

كُتِبَ عَلَيْكُمْ اِذَا حَضَرَ اَحَدَكُمُ الْمَوْتُ اِنْ تَرَكَ خَيْرًا ۖ ۨالْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَ بِالْمَعْرُوْفِۚ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِيْنَ ۗ

diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, Berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]: 180)

وَالَّذِيْنَ يُتَوَفَّوْنَ مِنْكُمْ وَيَذَرُوْنَ اَزْوَاجًاۖ وَّصِيَّةً لِّاَزْوَاجِهِمْ مَّتَاعًا اِلَى الْحَوْلِ غَيْرَ اِخْرَاجٍ ۚ فَاِنْ خَرَجْنَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ فِيْ مَا فَعَلْنَ فِيْٓ اَنْفُسِهِنَّ مِنْ مَّعْرُوْفٍۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah Berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah [2]: 240)

Allah menetapkan warisan bagi kedua orang tua, bagi kerabat yang mendapatkan warisan sepeninggal keduanya dan saat bersamanya, warisan bagi suami dari istrinya dan istri dari suaminya. Kedua ayat tersebut mengandung kemungkinan ditetapkannya

wasiat bagi kedua orang tua dan kerabat, wasiat bagi suami dan warisan yang bersamaan dengan wasiat. Jadi mereka bisa memperoleh harta melalui warisan dan wasiat. Ayat ini juga mengandung kemungkinan di-nasakh-nya ketentuan wasiat oleh
ketentuan warisan. Dikarenakan kedua ayat tersebut mengandung dua kemungkinan,
seperti yang saya jelaskan, maka ulama harus mencari dalil dari

Kitab Allah. Apabila mereka tidak menemukan satu nash di dalam Kitab Allah, maka mereka harus mencarinya di dalam Sunnah Rasulullah SAW. Bila mereka menemukannya dan menerimanya, maka pada hakikatnya mereka menerimanya dari
Allah berlandaskan perintah-Nya untuk taat kepada Rasulullah SAW.

Kami mendapati ahli fatwa serta ulama ahli berita peperangan yang kami hafal riwayatnya  baik dari Quraisy maupun dari selainnya, tidak berselisih pendapat bahwa Nabi SAW bersabda pada tahun Fathu Makkah:

لََّ َو ِصيةَ لَِواِر ٍث، َولََّ يُقتَ ُل ُمْؤِم ٌن بِ َكافٍِر

“Tidak ada wasiat bagi penerima warisan, dan seorang mukmin tidak dihukum mati lantaran membunuh orang kafir.”

Meriwayatkan dari ulama ahli berita peperangan yang mereka hafal riwayatnya. Jadi ini merupakan periwayatan oleh khlayak ulama dari khalayak ulama, dan itu lebih kuat dalam sebagian hal daripada periwayatan oleh seorang ulama dari seorang ulama. Kami juga mendapati para ulama sepakat dalam hal ini.

Sebagian ulama Syam meriwayatkan sebuah hadits yang tidak termasuk hadits yang dikuatkan oleh ulama hadits. Di dalamnya disebutkan bahwa sebagian perawinya majhul (tidak teridentifikasi), sehingga kami meriwayatkannya dari Nabi SAW
secara terputus (sanadnya).

Kami menerimanya seperti yang saya jelaskan dari periwayatan para pakar berita peperangan dan ijma mayoritas ulama, meskipun kami telah menyebutkan komentar mengenainya, dan kami bersandar pada hadits ulama perawi berita peperangan
secara umum dan ijma umat Islam. Sufyan mengabari kami dari Sulaiman Al Ahwal, dari Mujahid, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لََّ َو ِصيةَ لَِواِر ٍث

“tidak ada wasiat bagi ahli waris.” 31

Diriwayatkan oleh mayoritas ulama perawi berita peperangan dari Nabi SAW, bahwa wasiat tidak berlaku untuk ahli waris. Oleh krn itu, kemudian menjadikannya sebagai dalil bahwa ayat tentang ahli waris me-nasakh kebolehan wasiat untuk kedua
orang tua dan istri, dengan disertai berita yang terputus 
sanadnya dari Nabi SAW, dan ijma mayoritas untuk menerimanya.

Demikianlah pendapat mayoritas ulama, bahwa wasiat untuk kerabat itu di-nasakh dan hilang kewajibannya. Jk mereka merupakan ahli waris, maka mereka memperoleh peninggalan sesuai hukum waris, dan jika mereka bukan ahli waris, maka
tidak ada kewajiban untuk membuat wasiat bagi mereka. Hanya saja, Thawus dan sedikit ulama yang sependapat mengatakan bahwa wasiat untuk kedua orang tua dihapus,  namun tetap berlaku bagi kerabat yang bukan ahli waris. Barangsiapa membuat wasiat kepada selain kerabat, maka tidak boleh.

Ayat tersebut mencakup pendapat Thawus, yaitu bahwa wasiat bagi kerabat tetap berlaku, karena yang ada di dalam khabar para perawi berita peperangan hanyalah sabda Nabi SAW, “Tidak ada wasiat bagi ahli waris.” Oleh karena itu, menurut kami para ulama wajib mencari dalil yang menunjukkan kebalikan pendapat Thawus, atau justru sejalan dengannya.

Kami mendapati bahwa Rasulullah SAW menetapkan hukum menyangkut enam budak milik seorang laki-laki yang tidak memiliki harta selain mereka, lalu orang ini memerdekakan mereka saat meninggal. Nabi SAW membagi mereka menjadi tiga bagian, lalu Nabi SAW memerdekakan dua dari mereka serta mempertahankan status budak pada empat dari mereka.

Hal tersebut dikabarkan kepada kami oleh Abdul Wahhab dari Ayyub dari Abu qilabah, dari Abu Muhallab, dari Imran bin Hushain dari Nabi SAW.

Jadi, petunjuk Sunnah di dalam hadits Imran bin Hushain ini jelas, bahwa Rasulullah SAW memberlakukan pemerdekaan budak di waktu sakit sebagai sebuah wasiat. Orang yang memerdekakan mereka orang Arab, dan biasanya orang Arab hanya memiliki budak dari kalangan non Arab yang tidak ada hubungan kekerabatan dengannya. Di sini Nabi SAW membolehkan wasiat untuk mereka.

Hadits tersebut menunjukkan:

1. Seandainya wasiat itu tidak berlaku kecuali untuk kerabat, maka wasiat tersebut pasti juga tidak berlaku bagi para sahaya yang dimerdekakan, krn mereka bukan kerabat orang yang memerdekakannya.
2. Orang yang hendak meninggal tidak boleh berwasiat kecuali sepertiga hartanya.
3. Kelebihan dari sepertiga dalam wasiat harus dikembalikan
4. Tidak diberlakukannya
istis‟a (mengeluarkan uang untuk membebaskan budak).
5. Diberlakukaknnya pembagian dan undian.

Wasiat untuk kedua orang tua tidak berlaku, karena keduanya termasuk ahli waris, dan warisan bagi keduanya telah ditetapkan. Siapa pun yang memperoleh wasiat dari si mayit, maka wasiat itu berlaku bila ia bukan ahli waris. Tetapi pendapat yang paling kusukai adalah sebaiknya si mayit membuat wasiat untuk kerabatnya (yang bukan ahli waris-penj).

Di dalam Al Qur’an terdapat perkara nasikh dan mansukh selain ini, dan hal itu telah dijelaskan pada tempatnya di dalam kitab Ahkam Al Qur’an. Di sini hanya menjelaskan secara garis besar untuk dijadikan panduan dalam memahami perkara-perkara yang
senada. Menurut saya, penjelasan ini telah mewakili hal-hal yang belum saya bicarakan. Aku memohon perlindungan dan taufik kepada Allah.

Selanjutnya saya akan membahas kewajiban-kewajiban yang diturunkan Allah, baik secara terperinci maupun garis besar, serta Sunnah-Sunnah Rasulullah SAW yang sebanding dengannya dan yang menjelaskannya, agar orang yang memahami ilmu Al
Qur’an mengetahui posisi Nabi SAW terhadap Kitab-Nya, agama  Nya, dan para pengikut agama-Nya, sesua yang ditempatkan oleh Allah.

Mereka tahu bahwa mengikuti perintah Rasulullah SAW berarti taat kepada Allah SWT, dan Sunnah Rasulullah SAW selamanya sejalan dengan kitab dan tidak pernah menyalahi Kitab Allah selama-lamanya.

Orang yang memahami kitab pasti tahu bahwa suatu penjelasan bisa diberikan dengan banyak cara, bukan dengan satu cara. Bagi ulama, penjelasan ada yang gamblang dan ada yang samar sedangkan bagi orang yang kurang paham, penjelasan Al Qur’an
tampak simpang siur.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *