Haji (Yang Sah) Adalah yang Ditunaikan oleh Seseorang yang Sudah Baligh

Imam Syafi’i berkata: Apabila seorang muslim yang merdeka dan sudah baligh melakukan ibadah haji, maka hajinya sah dan bisa menggugurkan kewajiban haji yang merupakan rukun Islam, walaupun ia termasuk orang yang belum mampu melaksanakan ibadah haji. Misalnya, ia berangkat haji dengan berjalan kaki dan hal itu merupakan amal baik yang dilakukan, padahal ia mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tidak melakukannya. Ia melakukan amalan haji pada saat ia belum wajib melakukannya. Begitu juga apabila ia menjadi orang upahan untuk melaksanakan haji, maka pada saat itu ia boleh melaksanakan haji untuk dirinya. Begitu juga orang yang melakukan ibadah haji untuk orang lain, selayaknya ia merasa cukup dengan perbekalan yang ia bawa, karena saat itu ia sedang melaksanakan haji untuk dirinya sendiri bukan untuk orang lain. Meskipun seseorang masuk Arafah setelah zawal (zhuhur) dan keluar dari Arafah sebelum matahari tenggelam (sebelum maghrib), namun hajinya sah tapi ia harus membayar dam (denda). Begitu juga orang yang melakukan segala sesuatu yang dilarang dalam ihramnya, maka hajinya sah tapi ia wajib membayar denda, kecuali jima’ (bersetubuh).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *