Adab Berkhutbah

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan dari Salmah bin Al Akwa’, ia berkata:

“Rasul SAW berkhutbah dengan dua khutbah dan duduk sebanyak dua kali.” Seseorang menceritakan kepada saya dengan berkata, “Rasul SAW berdiri dengan tegak pada tingkat kedua setelah tingkat yang digunakan untuk istirahat (duduk), kemudian beliau memberi salam dan duduk. Apabila muadzin telah selesai mengumandangkan adzan, beliau kembah berdiri lalu membaca khutbah pertama. Kemudian beliau duduk, lalu berdiri dan membaca khutbah kedua. Perkataan ini sejalan dengan makna hadits.” Imam Syafi’i berkata: Saya menyukai imam melakukan apa yang saya sebutkan. Apabila muadzin mengumandangkan adzan sebelum imam naik ke atas mimbar, lalu imam itu membaca khutbah pertama, kemudian ia duduk lalu berdiri lagi untuk membaca khutbah kedua, maka hal itu telah memadai baginya —Insya Allah— karena ia telah berkhutbah dengan dua khutbah yang keduanya dipisahkan dengan duduk.

Imam yang berkhutbah sebaiknya bersandar atau memegang tongkat, busur, atau yang serupa dengannya.

Imam Syafi’i berkata: Jika imam itu tidak memegang tongkat, maka saya menyukai apabila ia menenangkan badannya dan kedua tangannya, ia boleh meletakkan tangannya di atas tangan kiri atau membiarkan dua tangannya tenang pada tempatnya dan tidak banyak berpaling, dan hendaknya ia menghadapkan wajahnya ke arah depan. Saya tidak menyukai apabila ia banyak berpaling kekiri dan kekanan, agar manusia mendengar khutbahnya. Imam Syafi’i berkata: Sekurang-kurangnya yang dinamakan khutbah ialah; hendaknya ada pujian kepada Allah Subhanahuwa Ta ’ala, shalawat atas Nabi SAW, membaca ayat dari Al Qur’an pada khutbah pertama. Pada khutbah kedua, ia membaca pujian kepada Allah Subhanahu wa Ta ’ala, shalawat atas Nabi SAW, berwasiat untuk bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta ’ala, serta berdoa.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *