JOMBANG — Sebanyak 90 siswa Madrasah Aliyah Asy Syafiiyah Tanggulangin, Sidoarjo, mengikuti kunjungan industri dan wisata edukasi di Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, Wonosalam, Jombang, Sabtu (3/10/2026). Mereka mempelajari pengembangan usaha berbasis potensi lokal, mulai dari pengelolaan coffee shop hingga produksi keripik pisang.
Kegiatan berlangsung pukul 09.00-14.00 WIB dengan menghadirkan narasumber dari Cafe Sumber Wandhe dan pengurus Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an.
Para siswa mendapatkan gambaran mengenai proses membangun sebuah usaha, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga pengolahan bahan baku, pelayanan, pengemasan, pemasaran, hingga bagaimana sebuah produk memiliki nilai tambah.
Salah Satu Pengasuh Pesantren Asy Syafiiyah, KH Ali Mustajib, M.Pd, mengatakan kunjungan tersebut merupakan bagian dari proses memperluas ruang belajar para santri. Menurut dia, pendidikan tidak berhenti ketika seseorang menyelesaikan jenjang sekolah atau pesantren.
“Kewajiban santri adalah belajar sepanjang hayat. Karena itu, mereka perlu belajar bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga dari masyarakat, lingkungan, dunia usaha, dan berbagai pengalaman kehidupan,” kata KH. Ali Mustajib.
Ia mengatakan, perkembangan zaman menuntut santri memiliki kesiapan yang lebih luas. Penguasaan ilmu agama tetap menjadi fondasi, tetapi generasi muda juga perlu memahami keterampilan, kewirausahaan, teknologi, serta perubahan yang terjadi di tengah masyarakat.
Dalam sesi mengenai coffee shop, mas Karim, owner Cafe Sumber Wandhe mengenalkan kepada siswa proses membangun usaha kopi dengan memanfaatkan potensi kawasan Wonosalam. Para siswa diajak memahami bahwa kopi tidak berhenti sebagai komoditas pertanian, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk dan layanan yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.
Pembelajaran berlanjut pada pengenalan produksi Keripik Pisang Qriuk yang dikembangkan di lingkungan Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an.
Melalui produk tersebut, siswa mempelajari proses sederhana penciptaan nilai tambah. Pisang yang semula merupakan hasil pertanian dapat diolah, diberi cita rasa, dikemas, kemudian dipasarkan sebagai produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Pengasuh Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, KH Ahmad Ghozali Fadli, mengatakan pendidikan perlu membantu peserta didik mengenali potensi yang berada di sekelilingnya, kemudian mengembangkan potensi tersebut menjadi sesuatu yang berguna.
“Alam menyediakan potensi, pendidikan menumbuhkan kemampuan membacanya, dan kreativitas mengubahnya menjadi manfaat,” ujar kiai Ghozali.
Menurut beliau, pendidikan kewirausahaan tidak selalu harus dimulai dari industri besar atau teknologi yang rumit. Berbagai sumber daya yang terdapat di sekitar masyarakat dapat menjadi titik awal pembelajaran apabila peserta didik mampu melihat peluang di baliknya.
Kopi, pisang, hasil perkebunan, maupun kekayaan lokal lainnya, kata beliau, dapat menjadi laboratorium pendidikan yang mempertemukan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, dan kemandirian ekonomi.
Karena itu, kunjungan industri tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan proses membuat dan menjual produk. Siswa juga diajak memahami cara berpikir di balik sebuah usaha: menemukan potensi, membaca kebutuhan, menciptakan nilai tambah, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Model pembelajaran seperti ini menjadi semakin relevan ketika dunia pendidikan menghadapi perubahan dunia kerja yang cepat. Sekolah dan pesantren dituntut tidak hanya menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, tetapi juga generasi yang mampu belajar secara mandiri, beradaptasi, bekerja sama, serta menciptakan peluang.
Dalam kunjungan tersebut, lingkungan Wonosalam sekaligus menjadi ruang belajar terbuka. Potensi pertanian dan usaha masyarakat diperkenalkan kepada siswa sebagai contoh bahwa kegiatan ekonomi dapat tumbuh dari sumber daya yang tersedia di suatu daerah.
Bagi para siswa MA Asy Syafiiyah, kunjungan itu memberikan pengalaman langsung mengenai hubungan antara pendidikan dan kehidupan sehari-hari. Mereka tidak hanya mendengarkan penjelasan mengenai kewirausahaan, tetapi melihat bagaimana sebuah potensi lokal diproses hingga mempunyai nilai ekonomi.
Kegiatan ditutup pada pukul 14.00 WIB setelah rangkaian pembelajaran industri, pengenalan produk, dan wisata edukasi di lingkungan Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an.
Dari kunjungan tersebut, pesan pendidikan yang ingin ditanamkan relatif sederhana: belajar tidak selesai di ruang kelas, sementara peluang tidak selalu berada di tempat yang jauh. Keduanya dapat ditemukan ketika seseorang memiliki kemauan untuk terus belajar dan kemampuan membaca potensi di sekelilingnya.

