30 Menit bersama Sang Kiai

Terakhir kalinya, saya bertemu kiai Hasan Abdullah Sahal, sehari sebelum Silatnas Gontor di Cirebon berlangsung. Tepatnya 22 Maret 2012 silam, di hotel Marcopollo, Jakarta, secara empat mata. Niatnya, hanya mohon Doa sekaligus menyodorkan kitab Burhany (Metode Cepat Membaca Al Qur’an sistem 9 jam). Nasehat beliau saat itu, metode ini jangan diajarkan sendiri, tapi sebarkan dan bentuk banyak komunitas. Itulah awal perjalanan metode Burhany, dan diadakanlah pelatihan-pelatihan di berbagai daerah.

Siang ini (Jum’at, 12/10) saya berkesempatan untuk mengunjungi Gontor, setelah beberapa kali diingatkan oleh Allah untuk mengunjungi kiai Syukri (KH. Abdullah Syukri Zarkasyi). Diawali dengan ziarah ke makam pendiri, dilanjutkan dengan Sholat Jum’at. Takdir, khatibnya berbicara tentang Al Qur’an dan keutamaannya. Imamnya, Kiai Hasan, membaca surat Al Infithar di rakaat pertama serta Al Insyirah di rakaat kedua. Orang beriman, pasti bergetar hatinya, mendengar lantunan bacaan al Qurannya.

Setelah istirahat, pukul 2 siang, berkesempatan bertemu beliau di kediamannya samping masjid Jami’. “Saya sedang sariawan, kalau 3 minggu gak sariawan itu prestasi, semua berawal dari pikiran,” ujar beliau, yang sekaligus menjawab soal pertama saya, yang belum terucap. Memang selama sebulan terakhir ini, ada beberapa gangguan saraf otak, terutama pada gelombang Beta.

“Dalam hidup, usahakan kerja keras dan selalu berbagi. Sampaikan ke semua orang.” Tegas sang kiai. “Tidak ke mana-mana, nungguin pondok, makan bersama santri, tidur dengan santri, itu juga bagian dari kerja keras.” Imbuh beliau.

“Jika sudah ada niat baik, lakukan. Kerja keras dan Tawakkal. Banyak pertimbangan itu penyakit. Saran orang itu juga penyakit. Teguhkan pendirian.” Terang beliau. Kemudian dicontohkan tentang Ma’had Al Muqoddasah, di sana pertimbangan pertama, Tahfidzul Quran, kedua Tahfudzul Quran, ketiga juga Tahfidzul Quran. Keempat dan seterusnya baru hal lain. “Istiqamahlah di Pondokmu, perjuangkan, nanti kau akan merasakan manisnya perjuangan.”

Setelah mendengarkan banyak cerita, pertemuan pun ditutup dengan doa bersama. Lantunan al Fatihah terus diucapkan. Lebih 7 kali dengan niat berbeda. Kebaikan untuk pondok, kiai, santri, dan ummat Islam di seluruh dunia. Kemudian, adzan Ashar pun berkumandang.

 

Pembangunan Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an

 

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *