Menapaki Jejak Tujuh Wali, Santri Bumi Al-Qur’an Belajar Sejarah Dakwah Islam

JOMBANG, 9 Juni 2026 — Sejarah tidak hanya dipelajari melalui buku dan ruang kelas. Bagi para santri Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an Jombang, sejarah hadir melalui perjalanan panjang menyusuri jejak para ulama yang berperan besar dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Melalui kegiatan wisata religi bertajuk “Menapaki Jejak Tujuh Wali“, para santri mengunjungi sejumlah situs bersejarah dan makam para wali yang menjadi bagian penting dari mata rantai dakwah Islam di Pulau Jawa. Perjalanan yang dimulai sejak pukul 06.00 WIB itu berlangsung hingga tengah malam dan menempuh ratusan kilometer melintasi Tuban, Lamongan, Gresik, hingga Surabaya.

Kegiatan tersebut bukan sekadar agenda ziarah, melainkan pembelajaran lapangan untuk mengenal lebih dekat perjuangan para pendakwah yang berhasil menanamkan nilai-nilai Islam secara damai, santun, dan berkelanjutan di tengah masyarakat Nusantara.

Perjalanan diawali dengan kunjungan ke Goa Akbar Tuban, salah satu situs bersejarah yang telah dikenal sejak masa lampau. Goa yang memiliki lorong-lorong alami tersebut menjadi ruang refleksi bagi para santri untuk memahami bahwa perkembangan Islam di pesisir utara Jawa tidak dapat dipisahkan dari jalur perdagangan, pendidikan, dan interaksi budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Dari Tuban, rombongan melanjutkan perjalanan menuju makam Sunan Bonang (Raden Maulana Makdum Ibrahim), putra dari Sunan Ampel (Raden Rahmat). Dalam sejarah Walisongo, Sunan Bonang dikenal sebagai ulama yang memadukan dakwah dengan pendekatan seni dan budaya. Melalui tembang, sastra, dan berbagai media lokal, beliau berhasil menyampaikan ajaran Islam secara mudah diterima oleh masyarakat pada masanya.

Perjalanan berikutnya mengarah ke makam Syekh Asmoro Qondi (Maulana Ibrahim Asmarakandi). Tokoh yang berasal dari kawasan Asia Tengah tersebut dikenal sebagai salah satu ulama yang memiliki hubungan penting dengan jaringan dakwah awal Islam di Nusantara. Dalam berbagai sumber sejarah Jawa, Syekh Asmoro Qondi disebut sebagai bagian dari generasi ulama yang meletakkan fondasi perkembangan Islam sebelum era kejayaan Walisongo.

Pada siang hari, para santri berziarah ke makam Sunan Drajat (Raden Qasim atau Syarifuddin) di Lamongan. Putra Sunan Ampel ini dikenal luas karena ajaran sosialnya yang menekankan pentingnya membantu kaum lemah dan membangun kesejahteraan masyarakat. Filosofi dakwah Sunan Drajat tercermin dalam berbagai petuah yang mengajarkan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian dari pengamalan ajaran Islam.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju makam Syekh Maulana Ishaq, seorang ulama besar yang diyakini berasal dari Samarkand dan dikenal sebagai ayah dari Sunan Giri (Raden Paku atau Muhammad Ainul Yaqin). Peran Maulana Ishaq dalam penyebaran Islam di wilayah Blambangan dan Jawa Timur menjadi bagian penting dalam sejarah dakwah Nusantara.

Menjelang waktu magrib, rombongan tiba di kompleks makam Sunan Maulana Malik Ibrahim, yang dikenal pula dengan nama Syekh Maghribi. Beliau sering disebut sebagai pelopor dakwah Islam di Pulau Jawa dan termasuk tokoh paling awal dalam jaringan Walisongo. Pendekatan dakwahnya yang mengutamakan pelayanan sosial, pertanian, kesehatan, dan pendidikan menjadi teladan bagaimana Islam diperkenalkan melalui solusi nyata bagi masyarakat.

Usai menunaikan salat Magrib, para santri melanjutkan perjalanan menuju makam Sunan Giri (Raden Paku atau Muhammad Ainul Yaqin) di Gresik. Dalam sejarah Islam Nusantara, Sunan Giri dikenal sebagai salah satu ulama paling berpengaruh pada abad ke-15. Pesantren Giri yang beliau dirikan berkembang menjadi pusat pendidikan Islam yang melahirkan banyak dai dan ulama yang kemudian menyebarkan Islam ke berbagai wilayah Nusantara, termasuk Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, hingga Maluku.

Puncak perjalanan berlangsung di kompleks makam Sunan Ampel (Raden Rahmat) di Surabaya. Ulama yang memiliki garis keturunan hingga Rasulullah SAW tersebut dikenal sebagai guru dari banyak tokoh Walisongo. Dari pusat dakwah yang beliau bangun di Ampel Denta, lahir generasi ulama yang kemudian memainkan peran besar dalam islamisasi Jawa secara damai dan berkelanjutan.

Di lokasi yang sama, seluruh santri berziarah ke makam KH. Qosim Zubair, beliau adalah Guru Al Quran pengasuh pesantren yang di makamkan di area pemakaman Sunan Ampel.

Di tengah suasana malam yang tenang, para santri memanjatkan dzikir, doa, dan merenungkan kembali perjalanan panjang para ulama yang telah mengorbankan tenaga, waktu, bahkan kehidupan mereka demi menyampaikan risalah Islam.

Pengasuh Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an Jombang, KH. Ahmad Ghozali Fadli, M.Pd.I menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang untuk menanamkan kesadaran sejarah sekaligus menumbuhkan kecintaan para santri terhadap para ulama.

“Para wali tidak menyebarkan Islam dengan kekerasan, tetapi melalui ilmu, akhlak, pendidikan, pelayanan sosial, dan keteladanan. Nilai-nilai itulah yang ingin kami tanamkan kepada para santri,” ujarnya.

Lebih dari sekadar perjalanan fisik, ziarah ini menjadi perjalanan intelektual dan spiritual. Para santri diajak memahami bahwa keberhasilan dakwah para wali lahir dari perpaduan antara kedalaman ilmu, keikhlasan hati, kesabaran, dan kemampuan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Setelah menempuh perjalanan hampir 18 jam, rombongan akhirnya kembali ke Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an Jombang sekitar pukul 00.00 WIB. Kelelahan yang dirasakan terbayar dengan pengalaman berharga yang tidak hanya memperkaya wawasan sejarah, tetapi juga menguatkan tekad untuk meneruskan perjuangan para ulama melalui jalan ilmu, dakwah, dan akhlak mulia.

Di tengah derasnya arus modernisasi, perjalanan menyusuri jejak para wali tersebut menjadi pengingat bahwa kemajuan peradaban Islam di Nusantara dibangun oleh para pendakwah yang mengajarkan ilmu dengan kelembutan, memimpin dengan keteladanan, dan mencintai masyarakat yang mereka layani.

Tim Media www.bumiqu.org

Naskah: Ali Aufa Ri’ayatsyah

Foto: Habibi, Hilmy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *