Larangan Berludah Dalam Masjid Dan Perintah Menghilangkannya

Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Berludah di masjid adalah suatu kesalahan, sedang dendanya kesalahan tadi ialah menimbun ludah tersebut.” (Muttafaq alaih)

Maksudnya menimbun ludah ialah apabila lantai masjid itu berupa tanah, pasir dan yang semacam itu, maka wajiblah Ia menutupinya di bawah tanah tersebut.

Abulmahasin Arruyani berkata dalam kitabnya yang bernama Albahr: “Dikatakan bahwa yang dimaksud dengan menimbunnya itu ialah mengeluarkan ludah tersebut dari masjid.”

Adapun kalau masjid itu berlantai tegel ataupun pelur semen, kemudian ada orang yang menggosok-gosokkan ludah itu di masjid sebagaimana di atas itu dengan kakinya ataupun Iain-Iain, seperti yang dilakukan oleh sebagian banyak dari orang-orang yang bodoh, maka yang sedemikian itu bukanlah berarti menimbunnya, tetapi  sahkan  menambah dengan kesalahan yang lain, lagi makin memperbanyak kotoran itu di masjid. Oleh sebab itu orang yang sudah terlanjur melakukan semacam itu, hendaklah mengusapnya dengan bajunya, tangannya ataupun Iain-Iain atau membasuhnya yakni mencucinya dengan air.

Dari Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Rasulullah s.a.w. melihat ingus atau ludah atau dahak di dinding Ka’bah, lalu beliau s.a.w. menggaruknya.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Anas r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya masjid- masjid ini tidak patut untuk melakukan sesuatu dari kencing ini dan tidak patut pula untuk membuang kotoran. Hanyasanya masjid itu adalah untuk berzikir kepada Allah Ta’ala dan membaca al-Quran.” Atau semacam di atas itulah yang disabdakan oleh Rasulullah s.a.w. (Riwayat Muslim)

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *