Imam Syafi’i berkata: Apabila seseorang hendak melakukan ihram, baik sudah melaksanakan haji atau belum, maka ia boleh memilih berihram terlebih dahulu atau umrah (haji Tamattu), atau berihram untuk haji dan umrah (haji Qiran), atau berihram untuk haji dulu (haji Ifrad). Menurutsaya, yang terbaik adalah haji Ifrad. Diriwayatkan dari Aisyah RA. bahwa Nabi SAW melakukan haji Ifrad.

Imam Syafi’i berkata: Ketika memasuki ihram, seseorang boleh berniat dengan menyebut kata-kata haji atau umrah. Apabila ia menyebutnya sebelum memasuki ihram atau secara bersamaan, maka hal itu dibolehkan.

Imam Syafi’i berkata: Apabila seseorang menyebut kata-kata haji dalam talbiyah-nya, padahal yang ia niatkan dalam hati adalah umrah, maka dalam hal ini ihramnya adalah ihram umrah. Apabila seseorang dalam talbiyah-nya menyebut kata-kata umrah padahal yang ia niatkan dalam hati adalah haji, maka ihramnya adalah ihram haji. Apabila seseorang tidak berniat untuk melaksanakan haji danjuga tidak bemiat untuk melaksanakan umrah dalam talbiyah-nya, maka orang tersebut berarti tidak sedang melaksanakan haji dan tidak sedang melaksanakan umrah.

Apabila seseorang berniat untuk melakukan ihram dalam talbiyahnya tetapi ia tidak bemiat untuk haji atau umrah, maka dalam hal ini ia boleh memilih; apakah akan menjadikan ihramnya sebagai haji atau umrah. Apabila dalam talbiyah-nya ia lupa apa yang ia niatkan (niat haji atau niat umrah), maka dalam hal ini ia dianggap melakukan haji Qiran (berihram untuk haji dan umrah sekaligus) dan tidak boleh yang lainnya. Karena apabila ia meniatkan umrah, maka ia harus datang dengan niat umrah kemudian baru melakukan haji. Jika diniatkan untuk haji, maka ia datang dengan ihram haji dan umrah. Jika dilakukan secara bersama sama (haji dan umrah), berarti ia datang dengan melaksanakan haji Qiran. Adapun lafaltalbiyah adalah sebagai berikut: penuhi panggilan-Mu ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Aku penuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilanmu. Sesungguhnya segala puji dan nikmat serta kekuasaan adalah milik-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu. ” Apabila selesai mengucapkan talbiyah, disunahkan untuk bershalawat kepada Nabi SAW dan memohon kepada Allah Ta ’ala atas ridha dan surga-Nya, serta berlindung kepada Allah-dengan rahmat-Nya dari adzab neraka.

Imam Syafl’i berkata: Talbiyah boleh dilakukan dalam keadaan berdiri, duduk, berkendaraan, berjalan kaki, dalam keadaan junub, dalam keadaan suci, atau dalam seluruh keadaan. Disunahkan untuk mengeraskan suara ketika ber-talbiyah bagi laki-laki. Adapun bagi perempuan tidak disunahkan untuk mengeraskan suara, cukup bisa terdengar oleh dirinya sendiri.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *