Pesan Damai dari Bumi Syam

Sabtu (17/11) lalu, Wakil Rektor Universitas Biladis Syam, Suriah, Syekh Dr. Abdul Salam Rajih, berkunjung ke Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, Wonosalam, Jombang. Sejak saat itu, hingga hari ini, kami masih diberi kesempatan untuk mendampingi beliau. Akhirnya, dibanyak kesempatan muncullah beragam diskusi menarik dan pembicaraan yang banyak hikmah. Kadang, diselingi canda tawa, namun penuh arti dan makna.

Di beberapa kesempatan, kami berkaca-kaca hingga meneteskan air mata. Terutama, saat beliau bercerita tentang Perang Suriah. “Kita tidak pernah memulai perang, itu perang antar beberapa Negara yang lokasinya di Suriah. Kitalah korbannya.” Hampir 7,5 tahun perang terjadi di Suriah, dan bersyukur warga Suriah adalah orang-orang sabar yang senantisa bertahan dalam kondisi tersulit. “Para ulama bersatu menenangkan ummat, dan selalu menjaga persatuan dan agar tidak mudah menerima informasi dari orang lain. Itulah kunci kesabaran, yang pada akhirnya membuahkan kesuksesan, berupa kondusifnya Bumi Syam.” Tegas Syekh Abdul Salam. “Suriah aman, damai, buktinya KBRI Damaskus tidak pernah berpindah dari tempat asalnya, setia menemani.” Imbunya.

“Kunci kedua adalah, tidak diperkenankannya orang baik untuk diam. Harus bersuara. Siapakah mereka? yakni Ahlu Qur’an. Mushaf itu benda mati, tapi Ahlu Qur’an bisa berbicara, dan harus bersuara dan menyuarakan isi-isi di dalam Al-Qur’an.” Terang Syekh. Singkatnya, seorang muslim harus menjadikan Al-Qur’an sebagai kunci utama dalam menumbuhkan perdamaian, dan ayat-ayat perdamaian harus dipahami, diamalkan dan disuarakan (didakwahkan). Sedangkan, membacanya adalah secuil bagian untuk mendapatkan pahala mempelajari al-Qur’an.

Perjuangan ini harus disinergikan, bersama orang-orang mukmin dan orang-orang ikhlas. Yang dengan penuh harap kepada Allah, mengeluarkan tenaga dan hartanya di jalan Allah. “Harta akan menjadi milik kita, jika disedekahkan dan diinfaqkan di jalan Allah, pahalanya mengalir jika diwakafkan. Namun, hanya akan menjadi titipan, jika ditahan. Seperti pemilik loker penitipan barang, dia kaya dengan barang titipan, namun harus siap saat diambil oleh pemilik aslinya.” Pesan Syekh Abdul Salam. Inilah dunia, banyak orang merasa aman, namun sejatinya berada dalam fatamorgana. Bersiaplah untuk kemungkinan terburuk. Bumi Syam yang megah dan banyak sejarah, akhirnya luluh lantak oleh ego, namun bias bertahan berkat kesabaran, perjuangan dan persatuan.

Ditulis oleh:
Ahmad Ghozali Fadli
Pelayan Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an,
Wonosalam, Jombang

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *