Berkumur-kumur dan Memasukkan Air ke Hidung

Imām Syāfi‘ī berkata: Allah s.w.t. berfirman: “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku.” (al-Mā’idah [5]: 6). Imām Syāfi‘ī berkata: Saya lebih menyukai orang berwudhu’ yang memulainya dengan berkumur-kumur dan memasukkan air ke hidungnya tiga

Membasuh Kedua Tangan Sebelum Wudhu

Imām Syāfi‘ī berkata: Diriwayatkan dari Abū Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasūl s.a.w. bersabda: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلْيَغْسِلْ يَدَيْهُ قَبْلَ إِدْخَالِهِمَا فِي الْوَضُوْءِ فَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَا يَدْرِيْ أَيْنَ بَاتَتْ يَدُهُ. “Apabila salah seorang di antara kalian bangun dari

Bersiwak

Imām Syāfi‘ī berkata: Diriwayatkan dari Abū Hurairah r.a. bahwa Rasul s.a.w. bersabda: لَوْ لَا أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِيْ لَأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ عِنْدَ كُلِّ وُضُوْءٍ وَ بِتَأْخِيْرِ الْعِشَاءِ. “Seandainya aku tidak takut memberatkan umatku, niscaya aku akan perintahkan kepada mereka bersiwak setiap

Istinja

Imām Mālik, Abū Ḥanīfah, Aḥmad bin Ḥanbal, dan asy-Syāfi‘ī berbeda pendapat tentang hukum menghadap qiblat dan membelakangi qiblat saat buang air kecil dan buang air besar. Abū Ḥanīfah dan Aḥmad – dalam salah satu riwayat darinya – berkata: “Tidak boleh

Berbicara dan Memotong Kumis

Imām Syāfi‘ī berkata: Tiada mengulangi wudhu’ karena berbicara, walaupun suara terdengar keras, dan tidak wajib mengulangi wudhu’ karena tertawa di dalam shalat dan di luar shalat. Dari Abū Hurairah, dari Nabi s.a.w., beliau bersabda: مَنْ حَلَفَ بِاللَّاتِ فَلْيَقُلْ: لَا إِلهَ

Tidak Berwudhu Karena Sesuatu Yang Dimakan Oleh Seseorang

Imām Syāfi‘ī berkata: أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ (ص) أَكَلَ كَتِفَ شَاةٍ ثُمَّ صَلَّى وَ لَمْ يَتَوَضَّأْ. “Sesungguhnya Rasūl s.a.w. makan tulang rusuk kambing, kemudian beliau mengerjakan shalat tanpa berwudhu’ kembali.” Imām Syāfi‘ī berkata: Dengan dasar ini kami mengambil kesimpulan bahwa barang

Berwudhu Karena Menyentuh Kemaluan

Imām Syāfi‘ī berkata: Marwān bin al-Ḥakam berkata, telah mengkhabarkan kepadaku Busyrah binti Shafwān, bahwa ia mendengar Rasūl s.a.w. bersabda: إِذَا مَسَّ أَحَدُكُمْ ذَكَرَهُ فَلْيَتَوَضَّأْ. “Apabila salah seorang dari kalian menyentuh kemaluannya, maka hendaklah ia berwudhu’.” Dari Abū Hurairah, dari Nabi

Berwudhu Karena Hadas Kecil

Imām Syāfi‘ī berkata: Diriwayatkan dari ‘Abdullāh bin Zaid, bahwa seorang laki-laki datang mengadu kepada Rasūl s.a.w. tentang sesuatu yang mengganggunya dalam shalat, lalu Rasūl s.a.w. menjawab: لَا يَنْصَرِفُ حَتَّى يَسْمَعَ صَوْتًا أَوْ يَجِدَ رِيْحًا. “Janganlah ia beranjak sehingga ia mendengar

Berwudhu’ Karena Menyentuh Wanita

Imām Syāfi‘ī berkata: Allah tabāraka wa ta‘ālā berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai ke siku.” al-Mā’idah [5] Dalam ayat ini, Allah ‘azza wa jalla menyebutkan wudhu’ bagi orang yang berdiri

Hal-hal Yang Mewajibkan Wudhu

Imām Syāfi‘ī berkata: Allah s.w.t. berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu.” (al-Mā’idah [5] Imām Syāfi‘ī berkata: Diriwayatkan dari Abū Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w. bersabda: إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحْدُكُمْ مِنْ نَوْمِهِ فَلَا