Wanita Kafir Dzimmi yang Masuk Islam Di Bawah Kekuasaan Lelaki Kafir Dzimmi

Imam Syafi’i berkata: Apabila seorang wanita kafir dzimmi masuk Islam dalam keadaan hamil, maka ia berada di bawah tanggungan lelaki kafir dzimmi (suaminya). Wanita itu diberi nafkah, hingga ia melahirkan. Jika ia sudah melahirkan, iajuga diberi biaya penyusuan. Wanita itu

Seorang Muslim yang Memasuki Darul Harb lalu Menemukan Istrinya

Imam Syafi’i berkata: Jika seorang muslim masuk ke darul harb dengan jaminan keamanan, lalu ia menemukan istrinya atau istri orang muslim lainnya, berikut hartanya atau harta orang muslim lainnya dan kafir dzimmi yang dirampas oleh orang-orang musyrik, maka ia boleh

Masuk Islam karena Sesuatu yang Dirampasnya atau Tidak Dirampasnya

Imam Syafi’i berkata: Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Mulaikah, sebagai hadits mursal, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa masuk Islam karena sesuatu, maka sesuatu itu menjadi miliknya. ” Hadits ini bermakna bahwa barangsiapa masuk Islam karena sesuatu dan sesuatu itu

Dimakruhkan Menikahi Wanita Ahli Kitab dalam Keadaan Perang dengan Orang Islam

Imam Syafi’i berkata: Allah menghalalkan mengawini wanita Ahli Kitab dan juga menghalalkan makanan mereka, yaitu wanita-wanita dari Ahli Kitab pemegang Taurat dan Injil; orang Yahudi dan Nasrani. Tetapi kami memilih hendaknya seseorang tidak mengawini wanita tersebut dalam keadaan perang, karena

Kafir Harbi yang Memberi Maskawin Istrinya

Imam Syafi’i berkata: Hukum asal perkawinan kafir harbi itu adalah batal, baik ada saksi atau tidak. Jika seorang kafir harbi menikah dengan wanita harbi dengan maskawin berupa khamer atau babi dan wanita itu menerimanya, lalu kedua suami-istri itu masuk Islam,

Kafir Harbi yang Masuk Islam dan Mempunyai Istri lebih dari Empat Orang

Imam Syafi’i berkata: Jika seorang kafir harbi masuk Islam, baik sebelumnya seorang watsani (penyembah berhala) atau Ahli Kitab, dan ia mempunyai istri lebih dari empat orang, baik yang dinikahi dalam satu akad atau dengan akad yang berbeda, atau ia sudah

Mengenai Obat-obatan

Imam Syafi’i berkata: Seluruh obat-obatan tidak termasuk dalam kategori makanan yang diizinkan. Seperti itu juga dengan jahe, yangmasuk dalam kategori obat-obatan. Sedangkan alaya, itu adalah makanan yang dapat dimakan. Yang masuk dalam kategori makanan, maka pemiliknya boleh untuk memakannya dan

Kucing dan Burung Shaqar (elang)

Imam Syafi’i berkata: Apa yang kita temukan dari harta musuh yang berharga, dari kucing atau burung elang, maka itu adalah harta ghanimah. Jika yang didapatinya adalah anjing, maka itu juga menjadi harta ghanimah. Apabila ada seseorang yang menginginkannya untuk berburu,

Burung Elang yang diajari, Binatang Buruan yang diikat dan yang Pandai Meniru

Imam Syafi’i berkata: Apabila seseorang membawa burung elang yang telah diajari, dan ini tentu ada pemiliknya, maka hendaknya dikembalikan ke tempat harta ghanimah. Begitu juga jika mengambil binatang buruan yang sudah pandai meniru, yang diikat atau yang diberi nama, maka

Menghalalkan yang dimiliki Musuh

Imam Syafi’i berkata: Apabila kaum muslimin masuk ke negeri musuh dan menemukan sesuatu selain makanan, maka hukum asal barang yang ditemukannya itu ada dua: Pertama, dilarang dan mengambilnya adalah suatu bentuk pengkhianatan. Kedua, diperbolehkan mengambilnya, asalkan mengenai sesuatu yang diperbolehkan.