Makanan-Makanan yang Diharamkan

Allah SWT berfirman kepada Nabi-Nya:

قُلْ لَّآ اَجِدُ فِيْ مَآ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَاعِمٍ يَّطْعَمُهٗٓ اِلَّآ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِنَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖۚ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena Sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. (QS. Al-An’am [6]: 145)

Ayat tersebut mengandung dua makna. Yang pertama adalah tidak ada makanan yang haram selain yang dikecualikan Allah SWT. Inilah makna yang seandainya kalimat tersebut disampaikan kepada seseorang, maka yang segera terdetik dalam pikirannya adalah tidak ada yang hram selain yang disebutkan Allah SWT haram. Demikianlah yang dikatakannya, dan itu merupakan makna tekstual, paling umum dan paling kuat. Seandainya ayat tersebut mengandung makna lain, maka makna inilah yang harus dipegang oleh ulama. Hanya saja Sunnah Nabi SAW menunjukkan makna yang berbeda yang juga terkandung dalam ayat tersebut. Jadi inilah makna yang dikehendaki Allah SWT.

Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya tidak bisa dimaksudkan berlaku khusus kecuali ada indikasi di dalam keduanya atau di dalam satunya. Sebuah ayat tidak bisa dipahami berlaku khusus kecuali ayat tersebut mengandung penjelasan bahwa yang dimaksud adalah khusus. Jadi sebuah ayat tidak bisa dipahami dengan sesuatu yang tidak terkandung di dalamnya.

Allah SWT berfirman: “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaKu, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.” Ayat ini mengandung kemungkinan bahwa ia berbicara tentang sesuatu yang ditanyakan kepada Rasulullah SAW, bukan sesuatu yang lain. Jangan mengandung kemudian bahwa ia berbeda tentang daging binatang yang biasa kalian makan. Inilah maknanya yang paling kuat sesuai petunjuk Sunnah tentangnya bukan yang lain.

Sufyan mengabari kami dari Ibnu Syihab, dari Abu idris Al Khaulani, dari Abu Tsa‟labah, ia berkata:

“Nabi SAW melarang setiap binatang buas yang bertaring.”.

Malik mengabari kami dari Isma’il bin abu Hakim, dari Ubaidah bin Sufyan Al hadhrami, dari Abu Hurairah ra , dari Nabi SAW beliau bersabda:

Haram memakan setiap binatang buas yang bertaring.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *