Imam Syafi’i berkata: Apabila seseorang menanggung atau memberi jaminan atas utang milik seseorang, lalu pemberi jaminan meninggal dunia sebelum utang jatuh tempo, maka bagi pemilik piutang boleh mengambil bayaran haknya dari pemberi jaminan itu. Apabila pemilik piutang telah mengambilnya, maka pengutang dan pemberi jaminan telah terbebas dari tanggungan masing-masing. Lalu tidak ada hak bagi para ahli waris pemberi jaminan untuk mengambil ganti rugi dari orang yang diberi jaminan (pengutang) atas apa yang mereka serahkan kepada pemilik piutang sampai utang jatuh tempo.

Demikian pula apabila pengutang meninggal dunia, maka pemilik piutang dapat mengambil haknya dari harta pengutang. Bila ia tidak dapat mengambilnya, maka tidak boleh baginya menuntut pemberi jaminan hingga utang jatuh tempo.

Imam Syafi’i berkata: Apabila jaminan diberikan atas suatu syarat. maka pemilik piutang dapat mengambil sesuai syarat yang ditetapkan dari pemberi jaminan dan tidak boleh mengambil yang tidak dipersyaratkan. Jika seseorang memberi jaminan terhadap utang mayit setelah ia mengetahuinya dan mengetahui pemilik piutang, maka jaminan itu mengikatnya, baik mayit meninggalkan suatu harta atau tidak.

Imam Syafi’i berkata: Jaminan tidak mengikat pada masalah hukuman (had), qishash dan siksaan fisik (uqubah). Jaminan tidak mengikat kecuali dalam perkara harta.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *