Hadits yang Bertentangan

Tanya: ada perbedaan dalam masalah tasyahud. Ibnu Mas‟ud meriwayatkan dr Nabi SAW, “beliau SAW mengajari mereka tasyahud sebagaimana beliau mengajari mereka satu surah Al Qur’an. Pada awalnya beliau mengucapkan tiga kalimat, ”At- Tahiyatul lillah”. Lalu tasyahud mana yang Anda ambil?

Jawab: Malik mengabarkan kepada kami, dari Ibnu syihab, dari Urwah, dari Abdurrahman bin Abdul Qari, bahwa ia mendengar Umar bin Khaththab berkata (di atas mimbar, mengajari tasyahud kepada orang-orang):

Katakanlah: “segala penghormatan milik allah. Segala kesucian milik allah. Segala kebaikan dan karunia milik allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya terlimpah kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan terlimpah kepada kami dan hamba-hamba Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya serta Rasul-Nya.”

Inilah yang diajarkan kepada kami saat masih kecil oleh para ulama ahli fikih pendahulu kami. Kemudian kami mendengarnya dengan bersanad, dan kami mendengar pula riwayat yang berbeda darinya. Namun kami tidak pernah mendengar satu sanad tentang tasyahud  baik yang serupa maupun berbeda  yang lebih kuat dari sanad tersebut, meskipun yang lain juga shahih.

Jadi, riwayat yang kami pegang adalah, Umar di atas mimbar tidak mengajarkan di hadapan para sahabat Nabi SAW selain yang diajarkan Nabi SAW kepada mereka. Ketika kami menerima dari para sahabat kami hadits yang dinilainya shahih dari Nabi SAW, kami pun condong kepadanya, dan itulah yang terbaik untuk kami lakukan.

Tanya: bagaimana bunyi hadits tersebut?

Jawab: Seorang yang tsiqah (yaitu Yahya bin Hasan) mengabarkan kepada kami, dari Laits bin Sa‟ad dari Abu Zubair Al Makki, dari Sa‟id bin Jubair dan Thawus dari Ibnu Abbas, ia berkata:

“Rasulullah SAW mengajari kami tasyahud sebagaimana beliau mengajari kami Al Qur’an. Beliau mengucapkan: „Segala penghormatan yang diberkahi dan segala karunia yang baik adalah milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat Allah dan berkah-Nya, senantiasa terlimpah kepadamu, wahai Nabi. Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada kami dan hamba-hamba Allah yang shalih. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.

Tanya: bagaimana pandangan Anda terhadap riwayat yang berbeda tentang tasyahud dari Nabi SAW? Ibnu mas’ud

meriwayatkan hadits yang berbeda dari hadits ini. Begitu juga Abu Musa dan Jabir. Seluruhnya saling berbeda pada sebagian lafazhnya. Bukan Umar mengajarkan semua yang berbeda dari riwayat mereka semua pada sebagian lafazhnya. Begitu juga riwayat Aisyah RA. Dalam tasyahud Ibnu Umar terdapat beberapa lafazh yang tidak dijumpai pada lafazh yang lain. Terkadang sebagian lafazh tasyahud lebih panjang daripada sebagian yang lain.

Jawab: perkara ini sudah jelas.

Tanya: jelaskan kepadaku!

Jawab: seluruhnya merupakan kalimat yang dimaksudkan untuk mengagungkan Allah SWT. Rasulullah SAW yang mengajarkan kepada mereka. Barangkali beliau mengajari seseorang lalu ia menghafalnya, dan mengajari yang lain lalu ia pun menghafalnya. Biasanya dalam periwayatan secara hafalan, yang paling diperhatikan adalah tidak berubahnya makna. Jadi di dalamnya tidak ada penambahan, pengurangan dan perbedaan kalimat yang bisa mengubah makna.

Barangkali Nabi SAW memperkenankan masing-masing dari mereka membaca tasyahud sesuai yang dihafalnya, karena ia tidak mengandung makna yang mengubah sesuatu dari hukumnya. Barangkali orang yang riwayat dan tasyahudnya berbeda telah bersikap longgar, sehingga mereka mengucapkan tasyahud sesuai hafalan mereka, sesuai yang terilhamkan dalam hati mereka, dan sesuai yang diperkenankan untuk mereka.

Tanya: apakah Anda menemukan dalil yang membolehkan cara- cara menerima pesan seperti yang Anda jelaskan?

Jawab: Ya

Tanya: apa itu?

Jawab: Malik mengabarkan kepada kami dari Ibnu syihab, dari Urwah dari Abdurrahman bin Abdul Qari, ia berkata:

“Aku mendengar Umar bin Khaththab berkata, „aku mendengar Hisyam bin Hakim bin Hazzam membaca surah Al Furqan tidak

seperti cara yang aku baca, padahal Nabi SAW yang membacakannya kepadaku. Aku nyaris menegur dan memarahinya, namun aku biarkan ia sampai selesai. Aku kemudian memanggilnya dengan memegang serbannya dan membawanya menemui Nabi SAW. Aku berkata, „Ya Rasulullah! Aku mendengar orang ini membaca surah Al furqan tidak seperti yang engkau bacakan kepadaku?‟ Rasulullah SAW bersabda:

Demikianlah surah ini diturunkan.” Beliau lalu bersabda kepadanya, „Bacalah!‟ aku pun membacanya. Beliau lalu bersabda, „Demikianlah surah ini diturunkan. Sesungguhnya Al Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf, maka bacalah sesuai bacaan yang mudah (bagimu).

Rasa belas kasih Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya telah membuat Allah SWT menurunkan Kitab-Nya dalam tujuh huruf (cara baca), karena Allah SWT tahu hafalan itu bisa hilang. Tujuan Allah SWT dalam hal ini adalah memberi toleransi kepada mereka dalam pembacaan Al Qur’an, meskipun berbeda lafazhnya, selama perbedaan mereka tidak mengubah makna. Bila hal itu yang berlaku pada Al Qur’an, maka perbedaan lafazh

sangat mungkin terjadi pada selainnya, selama tidak mengubah maknanya.

Seorang tabi‟in berkata: “aku telah menemui beberapa sahabat Rasulullah SAW. Mereka sepakat pada makna namun mereka berbeda-beda dalam lafazh. Lalu aku bertanya kepada sebagian mereka, mereka pun menjawab, „tidak apa-apa selama tidak mengubah makna.‟”

Tanya: memang benar bahwa ini tasyahud adalah mengagungkan Allah SWT. Saya benar-benar berharap semua ini merupakan bentuk kelonggaran di dalam tasyahud, dan perbedaan di dalamnya hanya dari segi lafazh seperti yang Anda jelaskan. Hal semacam ini mungkin terjadi pada shalat khauf. Sekiranya ia telah mengerjakan shalat secara sempurna sesuai cara manapun yang diriwayatkan dari Nabi SAW, maka shalatnya sah, karena Allah SWT membedakan antara shalat khauf dengan shalat yang lain. Tetapi bagaimana Anda condong memilih hadits riwayat Ibnu Abbas tentang tasyahud, bukan hadits yang lain?

Jawab: menurut saya maknanya paling luas, dan saya mendengarnya dari Ibnu Abbas secara shahih, sehingga bagi saya ia yang paling luas cakupan maknanya dan paling banyak lafazhnya dari yang lain. Oleh karena itu, saya berpegang pada hadits ini, tanpa mencela orang yang berpegang pada hadits lain yang memang shahih dari Rasulullah SAW.

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *