Hadiah yang diberikan kepada Petugas Pemerintah

Imam Syafi’i berkata: Dari Abu Hamid As-Sa’idi, ia berkata, “Nabi SAW menugasi seorang laki-laki dari suku Asdi yang bemama Ibnu Luthbiyyah untuk menarik zakat. Ketika ia datang kepada Nabi, ia berkata, ‘Ini untuk Anda (harta zakat) sedangkan yang ini hadiah untukku’. Lalu Nabi berdiri di atas mimbar dan berkata.

”Ada seorang amil (petugas zakat) yang kami utus untuk menarik zakat, lalu ia datang kepada kami dan berkata: Ini untuk Anda (berupa zakat) sedangkan yang ini hadiah untukku ” Selanjutnya, ’’Kenapa ia tidak duduk saja di rumah bapaknya atau di rumah ibunya kemudian ia menunggu apakah ada orang yang akan memberikan hadiah kepadanya atau tidak? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangannya (demi Allah), tidak ada orang yang mengambil hadiah tersebut sedikitpun kecuali nanti pada hari kiamat ia akan datang membawa hadiah tersebut di atas tengkuknya (meminggulnya). Kalau ia berupa sapi, maka ia akan bersuara seperti suara sapi; kalau ia berupa unta, maka ia akan bersuara seperti suara unta; dan kalau ia berupa kambing, maka akan bersuara seperti suara kambing.”

Kemudian Rasulullah mengangkat kedua tangannya sampai kami melihat kedua ketiak beliau yang putih, kemudian beliau bersabda,

“Ya Allah, bukankah telah aku sampaikan!, Ya Allah, bukankah telah aku sampaikan! ” 
Imam Syafi’i berkata: Apabila seseorang memberikan hadiah kepada petugas (zakat) dengan maksud agar orang tersebut mendapatkan sesuatu yang hak atau sesuatu yang batil, maka hukumnya haram bagi petugas untuk menerimanya, karena diharamkan bagi petugas untuk menyegerakan mengambil hak terhadap orang-orang yang ditangani urusannya. Allah telah mewajibkan kepadanya untuk memberikan hak kepada orang-orang yang urusannya ia tangani.

Imam Syafi’i berkata: Apabila petugas mendapat hadiah dan seseorang yang ditangani urusannya dengan kerelaan si pemberi hadiah, atau ia merasa berterima kasih terhadap petugas yang telah mengurusnya, maka dalam hal ini petugas lebih baik tidak menerimanya. Apabila petugas terlanjur menerimanya, maka hadiah tersebut lebih baik dimasukkan ke dalam harta zakat (harta negara).

Imam Syafi’i berkata: Apabila hadiah tersebut bukan dari orang yang urusannya sedang ditangani, atau dari orang yang berada di daerah lain (di luar daerah kekuasaannya), dan hadiah tersebut sebagai rasa terima kasih kepada petugas itu, maka dalam hal ini saya lebih cenderung berpendapat bahwa hadiah tersebut lebih baik diberikan kepada para petugas yang berada di wilayah orang yang memberikan hadiah tersebut; baik akhimya para petugas tersebut menerimanya atau menolaknya. Tapi lebih baik mereka tidak mengambil hadiah tersebut, karena perbuatan baik bukan untuk mendapatkan hadiah. Tapi jika mereka menerimanya dan menyimpan untuk dirinya, maka menurut pendapatku hal ini diperbolehkan.

Imam Syafi’i berkata: Apabila seorang petugas mendapat hadiah dari kerabatnya atau dari orang yang dekat dengannya yang biasa memberikan hadiah kepadanya sebelum ia menjadi pegawai pemerintah, dan pemberian tersebut tidak ada hubungannya dengan tugasnya, maka ia boleh menerimanya dan menyimpan untuk dirinya sendiri (tidak mem’asukkannya ke dalam harta zakat). Pemberian itu akan lebih baik apabila si pemberi hadiah bertujuan untuk menjaganya dan menjauhkannya dari keburukan (agar petugas tersebut tidak mudah menerima pemberian dari orang-orang yang ditangani urusannya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *