Bentuk Lain Riwayat-riwayat yang Dianggap Bertentangan

Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Shab bin Jatstsamah mengabarkan kepadaku:

Aku pernah mendengar Nabi SAW ditanya tentang orang-orang musyrik penduduk suatu kampung yang diserang pada malam hari, dan wanita serta anak-anak turut terbunuh. Nabi SAW lalu bersabda: ‟mereka termasuk kelompok mereka‟

Amru bin Dinar menambahkan redaksi dari Az-Zuhri, ”mereka termasuk kelompok orang tua mereka.”

Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Ibnu Ka‟ab bin Malik, dari pamannya, ia berkata:

“sesungguhnya ketika Nabi SAW mengirim pasukan menuju Ibnu Abi Huqaiq, beliau melarang membunuh wanita dan anak-anak.”

Jadi, Sufyan berpendapat bahwa ucapan Nabi SAW, “Wanita dan anak-anak termasuk kelompok orang tua mereka.” Merupakan bentuk pembolehan membunuh anak-anak, dan hadits Ibnu Abu Huqaiq itu me-nasakh-nya. Ia menyatakan “Apabila Az-Zuhri meriwayatkan hadits Shab bin Jatstsamah, maka ia selalu menyusulinya dengan hadits Ibnu Ka’ab.

Hadits Shab bin Jatstsamah terjadi saat Nabi SAW umrah. Jika yang dimaksud adalah umrah beliau yang pertama, maka menurut sebuah keterangan, perintah penyerbuan terhadap Ibnu Abi Huqaiq terjadi sebelumnya. Sementara itu keterangan lain menyebutkan pada tahun yang sama. Jika yang dimaksud adalah umrah beliau yang terakhir, maka hadits Shab bin Jatstsamah terjadi sesudah perintah penyerbuan terhadap Ibnu Abi Huqaiq, tanpa diragukan lagi.

Kami tidak pernah menemukan Rasulullah SAW memberi kelonggaran dalam membunuh wanita dan anak-anak, lalu beliau melarangnya. Menurut kami, larangan beliau membunuh wanita dan anak-anak maksudnya adalah jangan sengaja membunuh mereka, karena mereka bisa dikenali di antara orang-orang yang beliau perintahkan untuk dibunuh. Adapun arti ucapan Nabi SAW, “Wanita dan anak-anak termasuk kelompok orang tua mereka.” Adalah, anak-anak itu memiliki dua sifat, yaitu tidak memiliki hukum iman yang membuat darahnya terlindungi, serta tidak

memiliki hukum domisili di negeri Islam (dzimmi) yang membuatnya terlindung dari penyerbuan.

Izin dari Rasulullah SAW yang membolehkan penyerangan pada malam hari dan pengepungan terhadap suatu pemukiman, seperti terhadap bani Mushthaliq menunjukkan bahwa apabila serangan dan pengepungan itu atas instruksi Rasulullah SAW, maka tidak seorang pun – pasukan penyerang – dibolehkan menolak membunuh wanita dan anak-anak. Oleh karena itu, gugurlah berbagai kesalahan, kafarat, denda dan diyat dari orang yang membunuh mereka, karena ia dibolehkan mengepung dan menyerang. Lagi pula, mereka tidak memiliki kehormatan yang dimiliki oleh orang Islam.

Tetapi ia juga tidak boleh membunuh mereka secara sengaja apabila mereka bisa dikenali dan dibedakan. Nabi SAW melarang membunuh anak-anak karena mereka belum sempat menjadi kafir, dan melarang membunuh wanita karena tidak memiliki kekuatan perang, dan mereka bisa diajak masuk Islam sehingga menjadi kekuatan para pengikut agama Allah.

Tanya: jelaskan hal ini dengan cara lain!

Jawab: penjelasan ini sudah cukup bagi orang yang memahaminya.

Tanya: apakah Anda menemukan satu ayat yang menguatkannya?

Jawab: Ya. Allah SWT berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ اَنْ يَّقْتُلَ مُؤْمِنًا اِلَّا خَطَـًٔا ۚ وَمَنْ قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَـًٔا فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَّدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖٓ اِلَّآ اَنْ يَّصَّدَّقُوْا ۗ فَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۗوَاِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍۢ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِّيْثَاقٌ فَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ اِلٰٓى اَهْلِهٖ وَتَحْرِيْرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۚ فَمَنْ لَّمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِۖ تَوْبَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan Barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada Perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut- turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An-Nisa’ [4]: 92)

Dalam kasus pembunuhan terhadap seorang mukmin dengan secara tidak sengaja, Allah SWT mewajibkan membayar diyat dan membebaskan seorang budak. Dalam kasus pembunuhan terhadap seorang yang terikat perjanjian damai (dzimmi), Allah SWT juga mewajibkan diyat dan pembebasan budak. Asalkan keduanya termasuk orang yang dilindungi darahnya karena faktor iman, perjanjian, dan domisili secara bersamaan. Jadi, membunuh seorang mukmin yang tinggal di negeri yang tidak terlindungi hanya dikenai kaffarat, bukan diyat, karena ia hanya terlindungi drahnya dengan faktor iman. Dikarenakan anak-anak dan wanita kaum musyrik tidak terlindungi nyawa mereka  dengan faktor iman dan domisili, maka pada mereka tidak berlaku denda, tebusan, diyat dan kaffarat.

  • Tentang Mandi Jum’at

Tanya: sebutkan beberapa bentuk hadits yang bagi sebagian orang tampak bertentangan!

Jawab: Malik mengabarkan kepada kami, dari Shafwan bin Sulaim dari Atha bin Yasar, dari Abu Sa‟id Al Khudri, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

mandi pada hari Jum‟at adalah wajib bagi setiap orang yang telah bermimpi (baligh).”

Ibnu Uyainah mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Salib, dari ayahnya, bahwa Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa di antara kalian mendatangi shalat Jum‟at, maka ia hendaknya mandi.”

Sabda Nabi SAW “mandi pada hari Jum‟at adalah wajib, “ dan perintah beliau untuk mandi, mengandung dua kemungkinan makna. Makna tekstual dari keduanya adalah kewajiban mandi pada hari Jum‟at. Jadi, bersuci untuk shalat Jum‟at tidak sah kecuali dengan mandi, sebagaimana bersuci saat junub tidak sah kecuali dengan mandi. Tetapi kewajiban ini bisa diartikan sebagai pilihan, akhlak dan kebersihan.

Malik mengabarkan kepada kami, dari Az-Zuhri, dari Salim, ia berkata:

“seorang sahabat Nabi SAW masuk masjid pada hari Jum‟at saat Umar bin Khaththab sedang Khutbah. Umar lalu bertanya, „Jam berapa ini? Orang itu menjawab, „Ya Amirul Mukminin, aku baru pulang dari pasar, lalu aku mendengar adzan sehingga aku hanya sempat berwudhu.‟ Umar berkata: Wudhu juga cukup! Kamu tahu bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mandi? 95

Seorang yang tsiqah mengabarkan kepada kami, dari Ma‟mar dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya, semisal hadits Malik. Hadits ini menyebutkan nama sahabat yang masuk masjid tanpa mandi adalah Utsman bin Affan.

Umar meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau menyuruh mandi, dan Umar pun tahu bahwa Utsman mengetahui perintah mandi Rasulullah SAW tersebut. Setelah itu, Umar mengingatkan Utsman tentang perintah Nabi SAW, dan Utsman pun tahu itu. Seandainya seseorang mengira bahwa Utsman lupa, maka Umar sudah mengingatkannya sebelum shalat. Disebabkan Utsman tidak meninggalkan shalat untuk mandi, dan Umar pun tidak menyuruhnya keluar untuk mandi, maka hal itu menunjukkan bahwa keduanya mengetahui perintah Rasulullah SAW untuk mandi hanyalah bersifat himbauan, karena Umar tidak mungkin meninggalkan perintah Rasulullah SAW untuk mandi, dan begitu juga Utsman.

Ketika kita tahu hadits tersebut menerangkan Utsman yang tidak mandi serta menyebutkan perintah mandi, maka hal itu menunjukkan bahwa perintah tersebut hanya bersifat himbauan.

Ulama Bashrah meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

“Barangsiapa berwudhu pada hari Jum‟at, maka itu cukup dan merupakan sebuah nikmat. Barangsiapa mandi, maka mandi itu lebih baik.”

Sufyan mengabarkan kepada kami, dari Yahya, dari Amrah, dari Aisyah RA, ia berkata:

„orang-orang bekerja hingga mandi keringat, lalu mereka pergi dalam keadaan seperti itu, maka dikatakan kepada mereka,

„Mandilah kalian.‟

Artikel yang Direkomendasikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *