Banjir Darah Santri dan Kiai

“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati,” inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun pada tahun 1948.

“Mereka (PKI) menggunakan kekuatan mereka untuk melenyapkan bukan saja para pejabat pemerintah pusat, tapi juga penduduk biasa yang merasa dendam. Mereka itu terutama ulama-ulama tradisionalis, santri dan lain-lain yang dikenal karena kesalihan mereka kepada Islam. Mereka ini ditembak, dibakar sampai mati, atau dicincang-cincang, kadang-kadang ketiga-tiganya sekaligus. Masjid dan madrasah dibakar, rumah-rumah pemeluknya dirampok dan dirusak,” ujar Robert Jay, seorang Antropolog Amerika.

“Ulama-ulama dan santri-santri mereka dikunci di dalam madrasah, lalu madrasah-madrasah itu dibakar. Mereka itu tidak berbuat apa-apa, orang-orang tua yang sudah ubanan, orang-orang dan anak-anak laki-laki yang baik. Hanya karena mereka itu muslim saja. Orang dibawa ke alun-alun kota, di depan masjid, kemudian kepala mereka dipancung. Parit-parit di sepanjang jalan itu digenangi darah setinggi tiga sentimeter,” tambahnya.

PKI menguasai Madiun mulai 18 hingga 30 September 1948. Dalam kurun waktu itu, sekitar 1.920 santri dan warga dibantai. Kemudian bergeser ke Ponorogo. Salah satu tujuannya ke Pondok Modern Gontor. Saat PKI, sampai Jetis (3 km Barat Gontor), dengan desakan berbagai pihak, akhirnya KH. Imam Zarkasyi dan KH. Ahmad Sahal berkenan mengungsi bersama santri. Mereka menuju Trenggalek. Namun, ketika masuk dukuh Gurik, desa Ngadirejo, segerombolan orang dengan membawa golok, tombak, bambu runcing, dan sabit mengepung mereka. Dengan bengis mereka menginterogasi rombongan.

Para jagoan, yang ternyata anggota PKI itu, ingin memastikan bahwa mereka bukan tantara Hizbullah. KH. Ahmad Sahal berhasil meyakinkan, dan akhirnya mereka hanya ditahan untuk interogasi lebih lanjut. Agaknya, anggota PKI itu, tidak tahu bahwa KH. Ahmad Sahal dan KH. Imam Zarkasyi berada di dalam rombongan itu.

Namun, siksaan demi siksaan mereka rasakan. Santri senior, Ghozali Anwar dan Imam Badri diinterogasi secara khusus, karena melihat badan mereka yang besar dan kekar, yang disangka tantara. Di saat seperti ini, KH. Ahmad Sahal berujar kepada adiknya KH. Imam Zarkasyi, “Ben aku wae sing mati. Uduk kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Zar, njajal awak mendahno lek mati…” (Biar saya yang mari, bukan kamu. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Zar, mencoba badan, walau sampai mati…”

Mereka ditahan di dukuh Buyut, besoknya dipindah ke dukuh Ploso, lalu besoknya dipindah lagi ke kecamatan Soko. Ruang tahanan yang hanya berukuran 4×4 m, dihuni 70 orang. Pakaian dilucuti, dan hanya menyisakan pakaian dalam. Setelah 2 hari, mereka dibawa ke Ponorogo. Mulanya di tempatkan di Panti Yugo, dan pada akhirnya dikumpulkan di Masjid Muhammadiyah yang sudah dipasangi bom. Rencananya, beberapa orang pentingnya akan dipancung sebagai percontohan, dan masjid akan diledakkan.

Namun, dibawah komando Abd Choliq Hasyim (putra ke-6, KH. Hasyim Asyari), para tentara berhasil mengepung masjid dan membebaskan tawanan. Bahkan memadamkan api pemberontakan di Ponorogo.

Ditulis oleh: Ahmad Ghozali Fadli
– Khodimul Ma’had Bumi Al Qur’an, Wonosalam, Jombang
– Wasekjen Forum Muballigh Alumni Gontor

Share

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *